Outsider

Nur Sabilly
3 min readNov 5, 2020
Kabur, buram, samar
Photo by Anne Nygård on Unsplash

“Ini tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Dalam benakku, ilmu pengetahuan yang ada saat ini sudah mampu menjelaskan secara jelas dan rinci makluk cantik nan menyeramkan itu.” Dia komat-kamit sejak tubuhnya dalam posisi duduk di ranjang tempat tidurnya.

Malam itu memang dingin, udara yang berhembus pun mampu membuat kaca yang ada di jendela bilik tidurnya mengkerut dan buram. Begitu juga dengan ruangan berukuran 3 x 2 meter yang digunakan olehnya untuk beristirahat setelah seharian penuh dengan aktivitas yang melelahkan. Semua yang ada di ruangan itu dingin. Jikalau ada burung yang bersarang di situ, hendaklah dia menyuruhnya terbang ke tempat yang jauh, yang lebih hangat, karena rendahnya suhu di ruangan itu. Namun, keganjilan dirasakan oleh satu-satunya penghuni bilik itu.

“Bagaimana bisa aku berkeringat sedangkan ranjang yang aku duduki saat ini terasa lembab karena dingin?” Lagi-lagi dia bergumam.

Perasaan kalutnya membawa kepada memori yang terekam beberapa tahun yang lalu dimana saat itu adalah waktu yang berat baginya.

“Ibu, kini aku tidak bersedih lagi. Aku yakin saat ini ibu sedang tersenyum kepadaku. Karena itu ibu, aku senang. Aku percaya ibu sedang menikmati buah delima manis yang jatuh tidak jauh dari sungai susu itu.” Batu nisan yang masih terlihat putih dan bersih — karena memang baru beberapa hari ditempatkan di tempat pemakaman umum — itu diusap olehnya, seolah-olah ia sedang membelai rambut ibundanya yang kini telah berpangku pada pangkuan Raja dari segala Raja.

Kata demi kata diucapkan dengan suara yang tidak jelas dan tempo yang tidak teratur. Bagaikan orang yang baru saja selesai berlari karena dikejar oleh anjing. Dia dapat melihat bayangan dirinya di dalam cermin yang tepat menghadap dirinya meskipun ruangan itu gelap. Wajahnya lusuh serta pakaian yang digunakan terlihat kusut dan sedikit basah. Semua berkat pakaian kerjanya yang mampu menyerap cairan dengan baik.

“Kenapa waktu itu aku tidak mampu menyelamatkannya? Ah, bodoh sekali. Benar apa yang dikatakan olehnya, seharusnya aku saja yang mati. Aku memang tidak berguna.” Tanpa disadari, pipinya mulai basah. Kedua tangannya mengepal dengan erat dan dia terus mengayunkannya untuk memukul ranjang.

“Berulang kali aku mencoba untuk mati tetap saja gagal. Apakah ini adalah sebuah kutukan bagiku? Aku adalah manusia yang gagal. Jika ada yang mampu membunuhku tolong segera bunuh aku.” Dia masih menangis.

Rupanya penyebab dia mengalami situasi seperti itu adalah karena kehadiran sesosok makhluk tak dikenal yang datang setiap malam dalam mimpinya. Tak mengherankan, setiap anak adam pun pasti mengalami ketakutan ketika harus berhadapan dengan dirinya. Bagaimana tidak?

Makhluk itu mempunya dua wujud yang berbeda, benar-benar bertolak belakang. Kulitnya hitam legam, matanya melotot berwarna merah, kuku-kukunya kuning dan panjang, perawakannya mirip seperti dirinya, tidak tinggi dan tidak pula rendah. Ketika dia datang dia mampu membuat siapapun yang melihatnya lari terbirit-birit karena begitu seramnya wujudnya. Disatu sisi, makhluk itu dapat menjelma menjadi seorang gadis yang cantik. Iya, sama seperti seorang gadis yang dicintainya. Rambutnya hitam lurus, wanginya dapat tercium dari jarak kurang lebih empat puluh langkah kaki orang dewasa. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar betapa cantik dirinya, laki-laki, tidak, bahkan seorang wanita pun dapat berubah orientasi seksualnya untuk sementara yaitu ketika melihat gadis itu berjalan lewat tepat di depannya.

Harapan. Keputusasaan. Bahagia. Sedih. Cinta. Benci.

Pasangan perasaan manusia memang misterius. Benci dan cinta. Apakah benar makluk itu adalah manifestasi dari benci dan cinta? Entahlah. Sejauh yang diketahui, tidak ada yang diketahui. Tidak masuk akal.

Bisakah seorang manusia lepas dari entitas yang tidak masuk akal seperti dua hal itu? Entahlah. Satu hal yang absolut adalah relatif. Tanda tanya akan selalu ada.

Ketakutan akan hal yang tidak diketahui adalah bencana. Keterasingan adalah hal yang dibenci oleh manusia tapi entitas itu ada untuk menemani manusia. Mampukah manusia berkawan dengan hal yang tidak masuk akal? Tanda tanya akan selalu ada.

Cinta? Tidak masuk akal. Entitas itu kini sedang menemani. Berharap dapat berkawan dengan izin Sang Raja. Tidak masuk akal. Sang Raja memberi. Terimalah saja.

--

--

Nur Sabilly

Full Stack Web Developer. Arch Linux User. Learn, Share, Socialize.